Pastoral Hub
top
i

IFGF Global

MERANGKAI MELODI KEHIDUPAN BERSAMA BAPA


Seorang anak tampak sedang memainkan not-not lagu yang sangat indah dan beritme riang di sebuah piano, hingga ia tiba-tiba berhenti di suatu bagian karena ternyata ia melakukan kesalahan yang sebenarnya cukup sederhana tapi mengganggu telinganya. Ia kembali mengulang alunan nada yang sama dari awal dan berhenti di tempat yang sama juga. Ketiga kali ia mengulang, ketiga kali pula ia berhenti di situ.


Anak ini mulai menarik nafas panjang dan mengulangi lagi permainannya, tapi lagi-lagi, kesalahan yang sama di bagian yang sama. Tanpa sadar anak itu mulai kehilangan makna sesungguhnya dari apa yang ia lakukan. Ia mencoba memainkan kembali lagu itu dengan tempo yang justru lebih cepat dan akhirnya membuat semuanya menjadi lebih berantakan. Akhirnya anak itu pun menekan tuts-tuts pianonya dengan sangat keras, melampiaskan amarah dan kekesalannya.


Di belakang anak itu duduk seorang pria yang tak lain adalah ayahnya, seorang pianis profesional. Sang ayah kemudian menghampirinya dan berkata seperti ini, “Semakin kamu memaksa dirimu, semakin kamu tidak akan berhasil. Sekarang coba mainkan bersama papa, kurangi tempomu, perhatikan jarimu, dan nikmati permainanmu.”


Anak itu terdiam sesaat, tapi kemudian ia memainkan lagi lagunya. Kali ini ada jari-jari lain yang ikut bermain dengan tempo yang sangat lambat, dan ketika ia tiba di bagian yang selalu salah tadi, jari mungilnya mengikuti jari perkasa yang juga bermain di sampingnya itu, dan perlahan tapi pasti ia pun berhasil melewati bagian tersulit tadi.


Senyum mengembang di wajahnya saat dia menatap sang ayah, dan ayahnya pun berkata, “Oke, bagus…sekarang percepat sedikit ya.” Kembali alunan not-not indah itu terdengar tanpa kesalahan, semakin lama semakin cepat, semakin indah, dan semakin berwarna. Sang anak tampak sangat menikmati permainan musiknya, dan sang ayah pun tersenyum menunjukkan rasa bangganya.



Seberapa sering dalam keseharian kita, kita menjadi seperti anak tadi yang hanya berlari, berusaha melakukan semuanya sendiri, dan pada akhirnya menjadi frustasi? Kita merasa harus menunjukkan kemampuan kepada semua orang dan dengan demikian kita layak untuk menjadi yang terdepan. Kita melakukan segala cara, semakin lama justru berusaha semakin cepat, sampai kita tiba di suatu titik dimana kita hanya bisa menyerah dan bahkan sama sekali tidak mau kembali mencoba. Kita lupa bahwa sesungguhnya kita tidak harus menjalaninya sendiri. Kita memiliki seorang Bapa yang sangat ahli dan selalu siap untuk membantu kita. Kita hanya perlu memutuskan untuk berhenti dan mendengar perkataan-Nya, maka kita akan menemukan solusi untuk semua kesulitan kita.


Sama seperti ayah dalam cerita di atas, Bapa di Surga berkata kepada kita, “Kenapa kamu berusaha begitu keras seorang diri? Mendekatlah kepada-Ku, jadilah tenang di dalam-Ku, dengarkan nasihat-Ku, dan nikmati perjalanan bersama-Ku.” Dan di saat kita mulai melakukannya, tanpa kita sadari ketika kita tiba di akhir perjalanan hidup kita, kita bisa menoleh dan melihat betapa indahnya rangkaian melodi yang kita hasilkan ketika kita berjalan bersama dengan Dia.

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya,
demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.”

(Mazmur 103:13 TB)

Sumber: Ps. Ancella Gunawan (Koordinator Kids Global)

Post a Comment