Pastoral Hub
top
i

IFGF Global

MENGASIHI GEREJA


Di seluruh dunia, bulan Februari adalah waktu di mana orang-orang merayakan kasih dengan pasangan atau seseorang yang spesial bagi mereka. Itulah sebabnya saya ingin meluangkan waktu untuk mengungkapkan betapa saya sangat menghargai keluarga gereja saya di IFGF Vancouver!


Sejak kepindahan keluarga kami dari Indonesia, kami telah berakar di IFGF selama sekitar 17 tahun. Seperti kebanyakan dari Anda, mungkin Anda telah menjadi bagian dari gereja IFGF selama bertahun-tahun, membuatnya terasa seperti rumah kedua.


Bisa dibilang keluarga gereja saya telah menyaksikan saya bertumbuh melalui berbagai tahap kehidupan dan semua fase yang saya lalui (ya, termasuk fase poni samping dan celana jins longgar!). Melalui semua itu, saya telah diperhatikan dan didukung dalam perjalanan saya menemukan hubungan pribadi dengan Sang Gembala yang Baik.


Sungguh indah membangun hubungan dan belajar dari orang-orang yang berasal dari latar belakang kehidupan yang berbeda. Saya merasa diberkati memiliki banyak wanita luar biasa di gereja, dari berbagai tahap kehidupan, yang dengan penuh kasih telah menegur, mendorong, dan membimbing saya dalam iman.


Jika saya boleh jujur, saya tahu bahwa tidak ada gereja yang sempurna. Saya menyadari bahwa luka dan kekecewaan dapat muncul ketika anggota jemaat tidak sepakat dalam suatu hal, saling salah paham, atau merasa tersinggung oleh tindakan anggota lain. Tetapi puji Tuhan—kita memiliki Yesus! Dia sempurna, dan kita semua sedang mengalami proses pengudusan. Yesus lebih dahulu mengasihi kita, memberikan kita teladan yang sempurna tentang bagaimana kita harus mengasihi dan memperhatikan orang lain.


Menjalin hubungan di dalam gereja dapat menjadi tantangan, itulah sebabnya penting bagi kita untuk merefleksikan bagaimana kita dapat lebih berhati-hati dalam perkataan dan tindakan kita. Dengan pemikiran tersebut, saya ingin mengeksplorasi beberapa kebenaran Alkitab tentang bagaimana kita dapat menunjukkan kasih Kristus di dalam gereja kita.


KASIH ITU BERKORBAN


Saya harus melepaskan cara pandang dunia tentang kasih, yang sering kali bersyarat dan berpusat pada diri sendiri. Dalam Yohanes 13, Yesus menghabiskan saat saat terakhir sebelum pengadilan-Nya dengan membasuh kaki murid-murid-Nya. Dia sudah tahu bahwa Yudas akan mengkhianati-Nya demi beberapa keping perak dan Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali, meskipun sebelumnya ia berjanji akan melakukan apa saja untuk melindungi Yesus. Namun, meskipun menghadapi pengkhianatan itu, Yesus tetap memilih untuk melayani mereka dengan membasuh kaki mereka. Dalam ayat 35, Yesus berkata:


“Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku,
yaitu jika kamu saling mengasihi.”


Saya percaya Yesus mengajarkan kita untuk memberi tanpa mengharapkan imbalan. Hal ini mungkin berarti mengorbankan waktu, kenyamanan, atau sumber daya kita untuk orang lain di gereja. Saya selalu terdorong oleh para pelayan di gereja kami—mereka yang mengorbankan akhir pekan mereka untuk mempersiapkan ibadah Minggu, mereka yang memasak makanan untuk persekutuan, dan mereka yang dengan penuh sukacita mengunjungi lansia di panti jompo, membagikan kasih Kristus dengan kehadiran mereka, bernyanyi, dan memberi perhatian.


Saya memuji Anda yang dengan setia memberikan waktu untuk melayani gereja. Ini bukanlah tugas yang mudah, namun saya percaya bahwa Tuhan berkenan atas setiap kontribusi—besar atau kecil—yang diberikan bagi Gereja Nya. Semakin kita datang ke tempat yang membutuhkan, semakin kita memahami hati Yesus bagi umat-Nya yang dikasihi.



KASIH ADALAH KATALIS UNTUK KESATUAN DI GEREJA


Salah satu hambatan terbesar terhadap kesatuan dalam gereja adalah kesombongan. Saya telah mengamati bahwa kesombongan sering kali menjadi penyebab ketegangan dalam gereja—hal ini terlihat ketika seseorang meninggikan dirinya di atas orang lain atau memberikan komentar yang menghakimi. Di lain waktu, kesombongan menghalangi rekonsiliasi antar anggota jemaat.


Alih-alih meluangkan waktu untuk menyelesaikan konflik, terkadang orang lebih memilih untuk berasumsi, berbicara buruk tentang orang lain di belakang mereka, atau bahkan meninggalkan gereja. Jika hati kita tidak dijaga, kepahitan dan ketidakmampuan untuk mengampuni dapat berakar. Kolose 3:12 mengingatkan kita:


Karena itu, sebagai umat pilihan Allah, yang kudus dan yang dikasihi-Nya,
kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.


Saya suka bagaimana Paulus mengingatkan kita pada identitas kita di dalam Kristus—kita adalah milik-Nya, dan Roh Kudus hidup di dalam diri kita! Karena itu, kita dipanggil untuk hidup dalam standar yang lebih tinggi. Kita tidak boleh lagi didorong oleh keegoisan atau kesombongan, tetapi sebaliknya, kita harus dipimpin oleh Roh Kudus.


Dalam ayat yang sama, Paulus mendorong kita untuk “mengenakan” yang menggambarkan perlunya menanggalkan diri kita yang lama dan mengenakan identitas kita yang baru di dalam Kristus, sebagai mempelai-Nya. Tujuan kita seharusnya adalah untuk menghormati saudara-saudari kita di dalam Kristus.


Ketika konflik muncul, respon pertama kita seharusnya adalah duduk bersama dan berbicara secara langsung, bukanya menghindari masalah. Saya harus belajar hal ini saat bertumbuh di gereja. Dulu, saya sering menghindari percakapan yang sulit, karena saya takut menyakiti orang lain atau diri sendiri. Namun, saya segera menyadari bahwa menghindari konflik justru merugikan, baik saya maupun orang lain.


Pilihan paling mudah adalah melarikan diri, tetapi Yesus mengajarkan kita untuk bertanggung jawab atas tindakan kita dan mencari pemulihan hubungan. Banyak kisah dalam Alkitab, seperti Yakub dan Esau, menunjukkan bahwa hubungan yang sehat dibangun di atas pengampunan dan kasih tanpa syarat. Ketika mereka memilih untuk memprioritaskan rekonsiliasi daripada memenangkan perdebatan, Tuhan membawa kasih karunia, damai, dan pemulihan atas mereka.


Percakapan yang sulit sangat penting bagi pertumbuhan rohani. Seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 13:5-7:


Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu,

sabar menanggung segala sesuatu.”


Saya percaya bahwa Tuhan sengaja menempatkan kita dalam keluarga gereja untuk membentuk karakter kita agar membuat kita semakin serupa dengan-Nya. Tantangan yang kita hadapi di gereja adalah kesempatan untuk bertumbuh, belajar menghormati orang lain meskipun ada perbedaan, dan saling membangun dalam iman. Semua itu dimulai dengan kerendahan hati.


Gereja lebih dari sekadar sebuah komunitas—kita membawa nama Yesus. Seperti mercusuar, kita dipanggil untuk mencerminkan kasih-Nya kepada dunia, kasih tanpa syarat dan tidak pernah gagal. Dengan pemikiran itu, saya mendorong Anda untuk membangun hubungan dengan sungguh-sungguh di dalam gereja. Saling mendoakan satu sama lain, menasihati, menegur dengan lemah lembut, dan menunjukkan penghargaan kepada mereka yang Tuhan tempatkan dalam hidup Anda.


Mari kita membangun budaya kasih dan kesatuan—yang mencerminkan hati Kristus bagi Gereja-Nya.



Jennifer Wijaya (Koordinator Wanita Global)

Post a Comment