HIDUP YANG BERMAKNA
Salah satu hal yang saya pelajari pada awal karier saya sebagai seorang guru adalah selalu sadar akan waktu. Kita harus memastikan bahwa kita menyisihkan waktu untuk merencanakan pelajaran, mengukur seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan instruksi atau aktivitas, dan waktu yang diperlukan untuk beralih ke pelajaran berikutnya. Namun, dalam kehidupan pribadi saya, cukup sulit untuk bisa tetap fokus. Setelah seharian mengajar dan menangani berbagai tugas di tempat kerja, respons alami saya adalah bersantai dan menggulirkan feed Instagram tanpa tujuan.
Mungkin terlihat sebagai aktivitas yang tidak berbahaya, tetapi sekarang saya menyadari bahwa begitu banyak waktu berharga saya dihabiskan pada hal-hal yang sementara dan tidak berharga. Demikian pula dalam perjalanan rohani kita, kita perlu ingat bahwa kita berada di bumi ini dalam waktu yang terbatas Sebagai orang yang dikasihi Kristus, bagaimana kita dapat menjalani hidup kita dengan semaksimal mungkin?
Dalam Efesus 5:1-20, Rasul Paulus menekankan kepada jemaat bahwa kita perlu menjadi “1 penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih 2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. 3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. 4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono – karena hal-hal ini tidak pantas – tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. 5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. 6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. 7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.
Ketika Paulus berkata, “jadilah penurut-penurut Allah” dan “hiduplah di dalam kasih”, saya memandangnya sebagai proses penyerahan diri seumur hidup pada pada Firman dan kehendak Tuhan. Hal ini sangat melegakan karena melepaskan begitu banyak tekanan dalam upaya menjadi sempurna dan mengandalkan kekuatan saya sendiri. Yesuslah yang telah membenarkan saya di hadapan Allah karena Dia menanggung hukumannya. Bersyukur kepada Tuhan karena Dia memberikan Roh Kudus untuk membantu kita menjadi semakin serupa Dia dan tugas kita hanyalah mengikuti Dia. Ini mengingatkan saya pada saat kami mengalami salju pertama di Kanada. Salju mencapai setinggi lutut dan ayah saya harus menyekop jalan setapak supaya keluarga kami dapat berjalan ke halaman tanpa tergelincir dan jatuh ke lapisan salju yang tebal. Gereja, kita harus mengikuti Kristus selangkah demi selangkah, dan itu membutuhkan kepercayaan.
Ini adalah penyerahan dan komitmen setiap hari untuk mengikuti bimbingan-Nya. Artinya, kita harus memperhatikan cara kita berbicara, berperilaku, berpikir, dan menggunakan waktu kita. Kita harus bertanya pada diri kita sendiri, bagaimana saya menghabiskan waktu saya? Apa yang merampok waktu saya atau apa yang menjadi gangguan terbesar saya? Atau apa yang saya konsumsi dalam hidup saya? Konten apa dari internet atau TV? Apakah ada sesuatu yang menjadi berhala dalam hidup kita?
Ketika kita mengarahkan diri kita untuk beristirahat di hadirat-Nya, semakin mudah bagi kita untuk memahami sepenuhnya tujuan Tuhan dalam hidup kita, yaitu menjadi pengorbanan yang hidup. Ketika Yesus berada di Bumi, Dia tahu persis bahwa tujuan-Nya untuk menaati kehendak Bapa dan menyerahkan hidupnya-Nya demi umat manusia. Menurut pemahaman saya, Paulus menegaskan kembali bahwa kita milik Tuhan sehingga kita dapat menjalankan identitas kita dalam Kristus. Hal ini untuk melepaskan keegoisan kita dan menempatkan fokus kita untuk tidak mementingkan diri sendiri, seperti Yesus.
Sangat penting bagi kita untuk memiliki waktu yang tidak terputus bersama Tuhan untuk mengakui siapa Bapa Surgawi kita dan menerima berkat-Nya setiap hari. Untuk menyelaraskan kembali fokus kita pada karakter-Nya dan membiarkan Roh Kudus menyadarkan kita mengenai hal-hal yang perlu kita ubah. Gereja, mengetahui bahwa kita adalah anak-anak Tuhan dan dikuduskan, sangatlah penting bagi kita untuk senantiasa menjaga hati kita. Kita dipanggil untuk mencerminkan terang-Nya di dunia ini melalui sikap, tindakan, dan perkataan kita. Ini adalah pekerjaan yang terus-menerus melepaskan diri kita yang lama dan mengenakan diri yang baru, hidup sebagai duta besar Tuhan.
Dilanjutkan dengan 8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9 (karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran) 10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. 11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 12 Sebab menyebutkan saja pun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. 13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.14 Itulah sebabnya dikatakan:”Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” 15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, 16 dan pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat.17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. 18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.
Satu hal yang menonjol bagi saya dari perikop ini adalah penekanan Paulus dalam memanfaatkan setiap kesempatan sebaik-baiknya karena hari-hari ini adalah jahat. Sebagai pengikut Kristus, kita senantiasa dicobai dengan godaan. Kita tidak kebal terhadap cobaan hidup atau tantangan yang menghambat iman kita. Namun, Yesus menawarkan diri-Nya kepada kita sehingga kita dapat mengatasi segala rencana si jahat. Sejak saya bangun, pikiran saya dipenuhi dengan daftar panjang hal-hal yang perlu saya lakukan. Butuh disiplin tertentu bagi saya untuk memulai hari saya dengan berdoa dan dipenuhi Firman Tuhan.
Kita sering mendengar bahwa kebiasaan dan pilihan yang kita ambil akan menentukan arah hidup kita. Salah satu keputusan saya tahun ini adalah memilih untuk hidup lebih sehat dalam keseharian saya. Saya menetapkan tujuan untuk membuat tubuh saya bergerak setidaknya selama 45 menit, baik itu berjalan kaki, berlari, atau pergi ke gym. Hal ini telah membantu mengatur emosi saya dan saya menemukan bahwa tubuh saya benar-benar membutuhkan konsistensi itu.
Demikian pula dengan perjalanan iman kita, bahwa penting bagi kita untuk menjaga pertumbuhan rohani kita. Salah satu cara agar kita dapat tumbuh dalam iman adalah dengan memberikan hidup kita untuk melayani orang lain. Sekecil apa pun tugasnya, saya yakin kita mulai belajar lebih banyak tentang Yesus ketika kita memilih untuk menyingkirkan ego kita dan menggantinya dengan hati yang rindu melayani orang lain. Saya pikir itulah sebabnya rasul Paulus menyebutkan untuk dipenuhi dengan roh, berbicara satu sama lain dengan mazmur, himne, dan nyanyian.
Sama seperti iman kita yang dibangun melalui komunitas, sangatlah penting bagi kita untuk bertumbuh dalam melayani orang lain melalui kasih-Nya yang tak berkesudahan. Daripada terlibat dalam gosip atau pembicaraan yang tidak sehat, dengan sengaja memilih untuk mendorong orang lain dengan menggunakan Firman Tuhan yang memberi kehidupan dan kebenaran. Sebagai tubuh Kristus, kita dapat menunjukkan kasih Tuhan melalui pengaruh kita, tetapi ini memerlukan kerendahan hati. Apakah kita mengizinkan Kristus bekerja di dalam dan melalui kita?
Ketika Paulus menyebutkan pentingnya menyingkapkan kegelapan, saya percaya bahwa kita perlu bertumbuh dalam kebiasaan mengakui dosa-dosa kita dan bertumbuh bersama saudara seiman untuk menjadi semakin serupa Yesus dalam buah-buah roh, seperti yang diuraikan dalam Galatia 5:22-23. Gereja, kita hanya bisa hidup dalam karakter, jika kita menjalani kehidupan sehari-hari dengan berserah penuh kepada Tuhan. Menyerahkan masa lalu, masa depan, harapan, dan impian kita. Saya berdoa agar ini menjadi undangan untuk menjalani setiap hari dengan kesadaran bahwa hidup ini adalah anugerah dari Tuhan. ni adalah hari baru bagi kita untuk mengenal Dia secara pribadi dan memperkenalkan Dia melalui hidup kita.
Tuhan memberkati,
Jennifer Wijaya
Koordinator Wanita Global



