Trust in Marriage
Pada hari Kamis, 9 September 2021 lalu, LOVE Meeting dilayani oleh Ps Jose dan Hana Carol dari gereja JPCC melalui zoom. LOVE merupakan singkatan dari Ladies Of Virtue and Excellence yang merupakan komunitas bagi perempuan di IFGF Bandung. Dalam kesempatan kali ini, tema yang dibawakan adalah tentang Trust in Marriage dan dihadiri oleh sekitar 400 peserta.
Dalam Kejadian 1: 28, dituliskan bahwa tujuan manusia diciptakan adalah untuk beranak cucu, memenuhi bumi dan menguasai bumi. Cara yang dipakai Tuhan untuk manusia beranak cucu dan memenuhi bumi, bukan dengan mendirikan perusahaan atau gereja, tetapi lewat suatu institusi yang disebut pernikahan. Beranak cuculah tidak langsung terjadi di hari pertama manusia dijadikan, artinya manusia berpotensi untuk beranak cucu dan memenuhi bumi di kemudian hari. Untuk memenuhi bumi, laki – laki dan wanita bersatu dalam dalam sebuah pernikahan. Untuk menjadi satu perlu proses dan merupakan suatu perjalanan. Bukan hanya fisik saja tetapi dalam pernikahan jiwanya juga harus menjadi satu, yakni: pikiran, perasaan dan juga kehendak harus menjadi satu.
Suami dan istri harus dapat membangun suatu sepakat atau oneness dalam pernikahan. Trust atau kepercayaan adalah salah satu indikator seberapa jauh oneness / kesepakatan ada di dalam suatu pernikahan. Ada 4 hal kunci yang sering dipakai untuk menilai kesepakatan dalam hubungan suami istri, yaitu:
- Trust (kepercayaan)
- Openness (keterbukaan)
- Understanding (saling mengerti yang berarti bisa melihat segala sesuatu dari sisi yang berbeda)
- Reliability (dapat diandalkan, yang didalamnya ada konsistensi dan tanggung jawab)
Disampaikan juga bahwa di dalam membangun oneness, suami istri harus bisa sharing atau bertukar pikiran, perasaan maupun kehendak. Dalam bertukar pikiran kita memakai mulut dan hati kita. Semakin kita terbiasa bertukar pikiran dengan pasangan kita, maka oneness akan semakin mudah dibangun. Namun jika perbedaan pikiran kurang atau tidak dapat diatasi maka jarak antara suami istri akan semakin jauh dan biasanya akan memunculkan lebih banyak masalah. Trust adalah salah satu dasar yang penting untuk membangun sebuah pernikahan.
Ada 3 poin penting yang harus dimengerti oleh pasangan suami istri:
- Trust is a reward. Kepercayaan adalah suatu pemberian.
- Trust can’t be given out freely. Kepercayaan tidak dapat diberikan dengan cuma-cuma. Firman Tuhan berkata barangsiapa setia dalam perkara – perkara kecil, ia setia juga dalam perkara – perkara besar (Lukas 16:10)
- Trust takes time to build. Kepercayaan membutuhkan waktu untuk bertumbuh, tidak terjadi dengan begitu saja. Kepercayaan membutuhkan usaha untuk bisa terus bertumbuh supaya suatu pernikahan bisa menjadi lebih baik di masa depan.
Poin no 1 & 2 diatas ini merupakan kepercayaan dari sisi penerima Trust. Ps Hanna Carol kemudian melanjutkan dengan menjelaskan trust dari sisi pemberi trust (poin no 3). Dalam memberikan kepercayaan terutama kepada pasangan yang kepercayaannya pernah dikecewakan, kita harus bisa berpikir dengan adanya Future Possibility. Ini merupakan cara berpikir dimana dimasa depan akan ada hal baik bisa kita tuai dengan memberikan trust kembali kepada pasangan. Kita tidak bisa selalu melihat masa lalu, tapi kita diajarkan untuk memandang kedepan untuk suatu keadaan yang lebih baik. Selain itu juga, sebagai pemberi trust kita melihat adanya Positivity of Joy. Mengingat hal – hal yang baik, the excitement yang dirasakan dalam pernikahan adalah penting untuk tetap memberikan kepercayaan kepada pasangan kita. Jika kita stuck di suatu titik kekecewaan dan kita tidak mau memberikan trust kembali, maka kita sebenarnya tertipu 100%. Take the risk. Dalam memberikan trust kembali sebenarnya kita mengambil resiko, namun itu sangat berharga bagi pernikahan yang lebih baik di masa depan.
Sesi LOVE kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab dari para peserta kepada Ps Jose & Hanna Carol. Setelah itu Ps Jose Carol mendoakan semua pasangan suami-istri yang hadir dan berharap semua pasangan suami istri bisa belajar untuk memperkuat kepercayaan terhadap satu sama lain dengan lebih baik.
Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.
– Markus 10:6-9 –


