Pengaruh dari “DALAM” Lebih Dominan bagi Kesehatan Mental
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental. Pengaruh bisa datang dari luar, misalnya faktor lingkungan dan juga bisa berasal dari dalam diri seseorang. Sebagaimana masa pandemi, bagi orang yang kurang imun akan terkena dampak oleh virus, di lain pihak ada yang tetap sehat, karena memiliki pertahanan tubuh yang baik.
Jelas sulit untuk menjaga lingkungan agar tetap memiliki iklim kondusif bagi kesehatan kita. Yang bisa kita lakukan adalah mengontrol faktor yang dari dalam secara seksama, yaitu dengan menjaga dan meningkatkan ketahanan tubuh dan jiwa kita.
Kondisi dari “dalam”, seperti kesehatan fisik, jiwa dan spiritual secara dominan mempengaruhi kualitas kesehatan mental. Dari ketiganya, kondisi kesehatan fisik mudah terdeteksi. Si penderita akan segera datang ke klinik ketika kesehatan tidak fit. Spiritualitas terganggu, siapa yang tahu? Yang jelas Tuhan pasti tahu, namun si “kepala batu” belum tentu. Bagaimana dengan kesehatan jiwa? Dalam hal gangguan kesehatan emosi sering kali diri sendiri tidak menyadari, namun orang terdekatnya yang menderita.
Ketika stimulan datang, orang dengan gangguan kesehatan mental akan memberikan respons berlebihan dan tidak proporsional. Stimulan bisa berupa prilaku orang lain yang dianggap “melanggar” privasinya, lingkungan yang tidak nyaman atau bisa datang dari dalam dirinya. Namun bagi orang yang memiliki kesehatan mental yang baik, dia mampu memberikan reaksi yang lebih asertif, apa pun yang menjadi pemicunya.
Kondisi kesehatan jiwa sangat signifikan mempengaruhi kesehatan mental. Sebagaimana sebuah kebakaran, selain oksigen, ada dua faktor terpenting yang menjadi penyebab, yaitu “bahan bakar” dan “api”. Ketika hanya ada satu di antaranya, maka tidak akan menimbulkan kebakaran. Demikian juga dengan kesehatan jiwa yang prima, akan tetap tegar dalam situasi apa pun yang terjadi di sekitarnya.
Kondisi jiwa, khususnya emosi banyak dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan ketika masa pertumbuhan. Peristiwa-peristiwa yang dapat menimbulkan trauma, dapat berupa kekerasan rumah tangga, pelecehan, atau kejadian yang sangat menyakitkan. Kadang peristiwanya sudah terlupakan, namun sering kali dampak yang ditimbulkan masih tampak. Dalam pemulihan ada 3C yang perlu dilakukan, Comprehend, Confess, Change.
Comprehend. Perlu menyadari persoalan secara menyeluruh, ada kesehatan tubuh, jiwa dan roh. Perlu kejelasan bagian mana yang memerlukan pemulihkan. Kerendahan hati dan keterbukaan akan sangat menolong. Roh Kudus akan membimbing dan menyingkapkan hal-hal tersembunyi dalam hati.
Confess. Tidak ada gunanya bersikap menyangkal. Sikap demikian hanya akan memperburuk situasi. Penderita kolesterol akan lebih buruk kondisinya apabila dia mengingkari dan tidak siap mengubah pola makan. Sebaliknya bagi yang sadar dan mau mengakui, dia akan mengalami perbaikan. Pengakuan secara spesifik sangat menolong. Sakit hati yang mana, siapa yang melukai, kapan terjadi, merupakan langkah awal, bukan untuk usaha balas dendam, namun untuk menerimanya dengan ikhlas dan melepaskan pengampunan.
Siapa menyembunyikan dosanya tidak akan beruntung.
Siapa mengakui dan meninggalkannya, akan dikasihani TUHAN. (Amsal 28:13 – BIS)
Change. Merupakan langkah penting dalam mengalami perubahan hidup. Dengan niat yang sungguh, pembaharuan pola pikir dan perilaku akan membawa suatu masa depan yang lebih cerah dan produktif, meski kadang situasi sekitar masih tetap sama.
Kabar baiknya adalah bagaimana pun luka emosinya, masih ada harapan untuk dapat dipulihkan.
“… Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh”. (1 Petrus 2:24)
Sumber: Ps. Agus Prihardjo (Koordinator Kesehatan Moral & Mental – IFGF Global)
Selanjutnya: BANTUAN UNTUK KORBAN GEMPA DI CIANJUR, INDONESIA