Pengasuhan Anak Melampaui Masa Transisi
Tidak semua keluarga sedang berada di puncak kehidupan. Mungkin hari ini ada orang tua yang sedang menunggu promosi yang tak kunjung datang. Ada yang baru kehilangan pekerjaan dan belum tahu bagaimana memenuhi kebutuhan bulan depan. Ada pasangan yang sedang berjuang memulihkan hubungan setelah melewati konflik yang panjang. Ada keluarga yang sedang merawat orang tua yang sakit. Ada yang menantikan kehadiran anak. Ada juga yang setiap malam berdoa agar Tuhan membuka jalan keluar dari tekanan finansial yang terasa semakin berat.
Di tengah semua itu, kehidupan tetap berjalan. Anak-anak tetap bangun pagi. Mereka tetap berangkat ke sekolah. Mereka tetap meminta ditemani bermain, mendengarkan cerita sebelum tidur, atau bertanya tentang hal-hal sederhana yang kadang membuat kita tersenyum. Mereka tidak berhenti bertumbuh hanya karena orang tuanya sedang menghadapi musim yang sulit.
Justru di masa-masa seperti inilah mereka sedang belajar pelajaran hidup yang paling penting. Bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Inilah yang kami sebut sebagai the In-Between. Musim ketika kita belum melihat jawaban doa, tetapi juga tidak menyerah berharap. Musim ketika Tuhan belum membuka pintu yang baru, tetapi pintu yang lama sudah tertutup. Musim ketika keadaan belum berubah, tetapi kita memilih untuk tetap percaya bahwa Tuhan sedang bekerja.
Ironisnya, sebagian besar kehidupan justru dihabiskan di musim ini. Sebagai orang tua, kita sering berharap agar musim tersebut segera berlalu. Kita ingin masalah keuangan cepat selesai. Kita ingin hubungan keluarga segera dipulihkan. Kita ingin pekerjaan kembali stabil. Kita ingin anak-anak cepat dewasa dan mengerti keadaan. Kita ingin semuanya baik-baik saja.
Namun, Alkitab menunjukkan pola yang berbeda. Tuhan hampir tidak pernah bekerja secara instan. Dia jauh lebih tertarik membentuk manusia daripada sekadar mengubah keadaan. Lihatlah Yusuf. Tuhan memberikan mimpi yang besar, tetapi sebelum istana ada sumur, perbudakan, fitnah, dan penjara. Daud diurapi menjadi raja ketika masih muda, tetapi bertahun-tahun kemudian barulah ia benar-benar memimpin Israel. Bahkan Yesus sendiri menghabiskan sekitar tiga puluh tahun dalam kehidupan yang sederhana sebelum memulai pelayanan-Nya. Tetapi Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan musim penantian.
Begitu pula dalam keluarga. Sering kali kita berpikir Tuhan sedang membentuk anak kita. Padahal, di saat yang sama, Tuhan juga sedang membentuk kita sebagai orang tua. Ketika kondisi keuangan sedang sulit, anak melihat apakah orang tuanya tetap mengucap syukur atau hidup dalam kepanikan. Ketika hubungan suami dan istri sedang mengalami gesekan, anak melihat bagaimana orang tuanya memilih untuk saling mengampuni atau saling menyalahkan. Ketika pekerjaan terasa tidak pasti, anak memperhatikan apakah orang tuanya tetap berdoa dan percaya pada penyertaan Tuhan, atau justru kehilangan pengharapan.
Tanpa kita sadari, musim In-Between sering kali menjadi ruang kelas terbesar bagi iman anak-anak. Menariknya, ketika Musa menyampaikan pesan dalam Ulangan 6, bangsa Israel juga sedang berada di musim In-Between. Mereka telah dibebaskan dari Mesir, tetapi belum memasuki Tanah Perjanjian. Musa tahu bahwa tantangan terbesar mereka bukanlah bagaimana menaklukkan Kanaan, tetapi bagaimana tetap mengasihi Tuhan ketika hidup berubah dan belum sampai pada masa yang diharapkan. Karena itu, sebelum berbicara tentang cara mendidik anak, Tuhan terlebih dahulu berbicara tentang hati orang tua.
“Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”(Ulangan 6:5 TB)
Barulah setelah itu Tuhan berkata,
“haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
(Ulangan 6:7 TB)
Urutannya sangat penting. Di tengah musim transisi, Tuhan tidak memberikan strategi parenting yang rumit. Ia meminta orang tua untuk terlebih dahulu hidup mengasihi-Nya, lalu membawa kasih itu ke dalam percakapan sehari-hari bersama anak-anak.
Anak-anak tidak hanya belajar dari renungan keluarga atau ayat hafalan. Mereka belajar dari kehidupan nyata orang tuanya. Mereka melihat bagaimana ayah dan ibu tetap mengasihi Tuhan ketika keadaan sedang sulit, tetap berdoa ketika segalanya belum pasti, dan tetap percaya ketika jawaban Tuhan belum datang.
Sering kali, iman yang paling membekas bukanlah iman yang diajarkan ketika semuanya baik-baik saja, melainkan iman yang diteladankan ketika keluarga sedang melewati musim In-Between.

Di tengah budaya yang bergerak semakin cepat, salah satu nilai yang perlu kembali ditanamkan dalam keluarga adalah kemampuan untuk menunggu. Kita hidup di zaman instant gratification. Makanan bisa datang dalam hitungan menit. Film dapat diputar kapan saja. Barang yang diinginkan bisa tiba keesokan hari. Anak-anak tumbuh di tengah dunia yang terus berkata, “Kalau kamu menginginkannya, dapatkan sekarang.”
Tanpa disadari, cara berpikir ini juga masuk ke dalam rumah kita. Ketika anak meminta sesuatu, kita sering merasa harus segera menjawab. Mungkin karena kita tidak ingin melihat mereka kecewa. Mungkin karena rasa bersalah setelah terlalu sibuk bekerja. Atau mungkin karena lebih mudah mengatakan “iya” daripada menghadapi rengekan yang panjang. Padahal, tidak setiap keinginan harus langsung dipenuhi. Justru di situlah orang tua memiliki kesempatan emas untuk membentuk hati anak.
Bayangkan ketika seorang anak berkata, “Papa, aku mau LEGO yang baru,” atau “Mama, aku ingin sepatu yang ini.” Respons kita tidak harus selalu “iya” atau “tidak”. Ada respons ketiga yang sering kali jauh lebih membangun. “Papa/Mama senang kamu memberitahu. Yuk kita tunggu dua minggu dulu. Selama dua minggu kita berdoa, kita pikirkan bersama, lalu nanti kita bicarakan lagi.” Kelihatannya sederhana.
Namun, di dalam jeda itu, sesuatu yang jauh lebih berharga sedang terjadi. Anak belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga. Mereka belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Mereka belajar bahwa keputusan yang baik tidak dibuat berdasarkan dorongan sesaat. Mereka belajar bahwa menunggu bukanlah hukuman, melainkan bagian dari proses menjadi dewasa.
Sering kali, setelah beberapa hari, anak justru sudah melupakan barang yang sebelumnya terasa sangat penting. Namun, jika setelah masa menunggu mereka tetap menginginkannya dan memang itu adalah keputusan yang bijaksana, orang tua dapat mempertimbangkan untuk memberikannya. Melalui proses sederhana ini, anak sedang belajar sebuah nilai yang sangat penting: delayed gratification. Kemampuan untuk menunda kepuasan demi sesuatu yang lebih baik.

Menariknya, prinsip ini bukan hanya didukung oleh banyak penelitian tentang perkembangan anak, tetapi juga selaras dengan kebenaran Firman Tuhan. Alkitab menyebut penguasaan diri sebagai salah satu buah Roh (Galatia 5:22–23). Penguasaan diri bukanlah kemampuan untuk berkata “tidak” terhadap semua keinginan, tetapi kemampuan untuk tidak dikendalikan oleh keinginan.
Bukankah demikian cara Tuhan mendidik kita? Berapa banyak doa yang belum dijawab seketika? Berapa banyak pintu yang belum dibukakan? Berapa banyak impian yang masih Tuhan minta untuk kita nantikan? Mungkin kita mengira kita sedang mengajarkan anak untuk menunggu sebuah mainan. Padahal yang sedang kita bangun jauh lebih besar daripada itu. Kita sedang membentuk hati yang tidak diperbudak oleh keinginan sesaat. Kita sedang menanamkan kesabaran, penguasaan diri, dan kepercayaan kepada Tuhan.
Sesungguhnya tujuan parenting Kristen bukanlah membesarkan anak yang selalu bahagia karena mendapatkan semua yang mereka inginkan. Tujuan kita adalah membesarkan murid Kristus.
Anak yang mengenal Tuhan.
Anak yang mampu menunggu.
Anak yang percaya bahwa Tuhan selalu baik, bahkan ketika jawaban-Nya belum datang. Anak yang memahami bahwa karakter lebih berharga daripada kenyamanan.
Semua itu tidak lahir dalam semalam. Itulah sebabnya musim In-Between adalah anugerah. Di sanalah iman dipraktikkan dan kesabaran dibentuk. Di sanalah orang tua belajar menyerahkan kendali kepada Tuhan. Dan di sanalah anak-anak melihat bahwa mengikuti Yesus bukan berarti selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi belajar mempercayai Dia di setiap musim kehidupan.
Pada akhirnya, anak-anak mungkin akan melupakan banyak hal yang pernah kita berikan kepada mereka. Namun, mereka tidak akan lupa seperti apa rasanya dibesarkan di dalam rumah yang penuh iman, yang tetap berdoa ketika jawaban belum datang, tetap bersyukur ketika keadaan sulit, dan tetap percaya bahwa Tuhan sedang bekerja.
Itulah esensi Parenting Beyond the In-Between. Bukan tentang membawa anak secepat mungkin menuju jawaban Tuhan, melainkan membimbing mereka menemukan Tuhan di tengah musim itu. Karena warisan terbesar yang dapat kita tinggalkan bukanlah hidup tanpa In-Between, melainkan iman yang tetap bertahan di dalamnya.
Sumber: Luciana Crhistina (Tim IFGF Kids Global)
