TAKUT AKAN TUHAN, BUKAN MANUSIA
Kita hidup di dunia yang terus mendorong kita untuk mencari penerimaan manusia. Takut ditolak, takut dianggap gagal, takut tidak sesuai harapan orang lain. Bahkan dalam hal rohani, kita sering kali masih terjebak pada pertanyaan:
“Apa yang orang pikirkan tentangku?”
ketimbang
“Apa yang Tuhan pikirkan tentangku?”
Alkitab mengingatkan:
“Takut kepada orang mendatangkan jerat,
tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi.”
(Amsal 29:25 TB)
Ketakutan kepada manusia sering menjadi jerat yang tidak terlihat. Kita berkata “ya” padahal ingin berkata “tidak”, kita berusaha terlihat baik agar tidak dianggap gagal, kita menutupi kelemahan supaya tidak dihakimi.
Dalam pelayanan, kita takut jika doa kita tidak terlihat “powerful”. Dalam pekerjaan, kita takut jika orang lain tidak menyukai kita. Dalam keluarga, kita takut tidak menjadi seperti yang orang tua, pasangan, atau anak inginkan.
Ketakutan ini bisa membuat kita lelah, kehilangan damai, dan akhirnya menjauh dari apa yang Tuhan sebenarnya mau.
Raja Saul menjadi contoh tentang bagaimana takut akan manusia bisa membawa kepada kejatuhan. Saul tahu perintah Tuhan, tetapi karena takut kehilangan muka di depan rakyat, ia melanggar perintah Tuhan. Ia lebih mementingkan penerimaan manusia daripada ketaatan kepada Tuhan. Akhirnya, itu merusak hidupnya.
Sebaliknya, Alkitab berkata:
“Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan.”
(Amsal 9:10 TB)
Takut akan Tuhan bukan berarti takut Tuhan akan menghukum kita setiap saat. Takut akan Tuhan berarti menghormati, mengutamakan, dan menaati Dia lebih dari segalanya.
Takut akan Tuhan akan memampukan kita untuk berkata ya ketika Tuhan mau kita berkata ya, dan berkata tidak ketika Tuhan mau kita berkata tidak, meski orang lain mungkin tidak mengerti.
Mungkin Anda sedang bergumul dengan banyak tekanan dalam hidup:
– Tekanan untuk terlihat berhasil di mata keluarga atau rekan kerja.
– Tekanan finansial yang membuat Anda ingin mengambil jalan pintas agar disukai orang lain.
– Tekanan pelayanan agar terlihat rohani dan tidak mengecewakan orang.
– Tekanan sosial agar Anda cocok dengan standar dunia ini.
Dalam doa-doa Anda, jangan hanya datang kepada Tuhan dengan daftar kebutuhan, tapi bawa juga hatimu yang takut akan penilaian manusia kepada-Nya. Mintalah keberanian untuk hidup hanya di hadapan-Nya, bukan di hadapan manusia.
Saat kita takut akan Tuhan, kita akan lebih tenang, lebih bijak dalam mengambil keputusan, lebih damai meski orang tidak setuju dengan kita, dan lebih teguh saat tekanan datang. Hidup kita bukan untuk menyenangkan semua orang, tetapi untuk menyenangkan Dia yang telah memberikan hidup-Nya bagi kita.
Sumber: Ps. Dave Rustanto (Koordinator Doa Global)