Pastoral Hub
top
i

IFGF Global

Mengasihi Diri Sendiri, Mengasihi Orang Lain

“Kasihilah sesama manusia sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri.”

(Matius 22:39b AVB)

Firman Tuhan mengatakan kita harus mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri sendiri. Mudah dipahami bahwa sebelum kita dapat mengasihi sesama kita dengan baik, kita perlu memperhatikan kehidupan kita sendiri. Kita tidak dapat memberikan apa yang tidak kita miliki. Agar tetap sehat dan dapat melayani sesama, kita perlu melayani diri sendiri dan memperhatikan keperluan batin kita. Kadang kita perlu beristirahat, mengenali dan melakukan aktivitas yang dapat menyegarkan jiwa kita.


Self-love (mengasihi diri sendiri) tentu berbeda dengan mengasihani diri sendiri (self-pity). Seseorang yang melakukan self-love terbuka untuk menerima bantuan tulus dari pihak lain, sambil tetap menjaga batasan yang sehat. Ia tidak akan dikuasai rasa bersalah, penyesalan, atau rasa malu, tetapi berani membuka diri. Menunjukkan rasa cinta pada diri sendiri menggambarkan bahwa kita tidak sempurna dan berusaha tetap mempertahankan nilai ilahi dengan kerendahan hati dan integritas.


Self-care (memperhatikan diri sendiri) merupakan salah satu unsur dari pada self-love. Tidak melakukan self-care berarti sama dengan tidak melakukan self-love. Self-care adalah meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang menolong diri kita untuk hidup dengan lebih baik dan meningkatkan kesehatan secara menyeluruh – tubuh, jiwa dan roh. Orang yang tidak melakukan self-care akan mengabaikan kebutuhan dirinya. Gejala orang yang kurang self-care adalah selalu menyalahkan diri, selalu tidak puas terhadap apa yang dikerjakan dan jauh dari rasa cukup.


Ciri lain orang yang tidak melakukan self-love adalah selalu membuat tujuan hidupnya didasarkan pada “apa yang didengar dari orang lain”. Mereka akan terombang-ambing. Media sosial dan teknologi kekinian banyak membawa pengaruh. Perkembangan yang terjadi tersaji dengan begitu cepat. Demikian juga kabar tentang keberhasilan, aktivitas orang lain tersampaikan dengan cepat. Apa yang mereka dapatkan, kadang tertancap dalam di batin kita.


Tanpa sadar ambisi terpicu, menjelma menjadi “target baru”. Tanpa penyaring yang baik, peristiwa demi peristiwa akan berpengaruh terhadap target demi target yang harus diraih sehingga membuat hidup menjadi sangat melelahkan. Seharusnya, hidup itu sederhana. Firman Tuhan mengatakan, “Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.” (Ibrani 13:5b TB). “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” (1 Timotius 6:6 TB)


Bagaimana cara melakukan self-love? Salah satu sarannya adalah tetap terhubung dalam komunitas melalui relasi yang sehat, kelompok yang saling mendukung, memberi dan menerima. Hal ini membantu kita untuk dijauhkan dari rasa self-pity. Dalam interaksinya, kelompok demikian akan saling membantu dalam memproses perasaan dan pikiran negatif. Belajar tentang pemahaman nilai-nilai ilahi akan membantu menumbuhkan self-love. Memperkuat relasi dengan Tuhan dan teman seiman akan meningkatkan mengasihi diri sendiri dan orang lain yang dipenuhi dengan harapan, ketenangan, dan keyakinan akan kasih Tuhan yang besar.


Akhirnya, orang yang melakukan self-love, dia juga dapat menetapkan batasan-batasan dengan tepat. Tujuan hidupnya tidak mudah terintervensi oleh pendapat orang lain dan dia tetap dapat menyelaraskan tujuan hidup dengan rencana Tuhan.



Sumber: Ps. Agus Prihardjo (Koordinator Kesehatan Moral & Mental – IFGF Global)

Next: MEMBANGUN MEZBAH DOA DALAM KELUARGA

Post a Comment